Sodikin Masrukin Pemerhati pendidikan, sosial-budaya dan kajian Islam yang tinggal di Kab. Purbalingga. Adalah alumnus IAIN Semarang (S1) dan IAIN Purwokerto (S2).

Mentaati Rambu Lalu Lintas

kultum-tentang-mentaati-rambu-lalu-lintas-berhenti-ketika-lampu-merah-menahan-diri-seperti-puasa

Kultum tentang Mentaati Rambu Lalu Lintas. Pernahkah Anda tetap melaju di perempatan meski traffic light sedang berwarna merah yang artinya harus menhentikan kendaraan? Atau paling tidak, pernahkan Anda melihat orang-orang tetap tidak menhentikan kendaraannya di persimpangan meski lampu merah menyala? Atau saat Anda berhenti di perempatan karena lampu lalu lintas berwarna merah dengan indikator detik belum selesai tetapi pengendara lain di belakang Anda membunyikan klakson kendaraan menyuruh Anda segera menjalankan kendaraan?

Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja saya sampaikan sekedar untuk mengingatkan kembali beberapa peristiwa di jalan raya dan ketaatannya terhadap rambu lalu lintas.

Itulah kenyataannya, banyak pengguna jalan khususnya yang berkendara sering mengabaikan rambu lalu lintas. Bagi mereka, rambu hanyalah sekedar simbol dan gambar yang seakan tidak berarti jika tidak ada polisi. Mereka juga menganggap bahwa rambu hanyalah persoalan tilang polisi dan tidak lebih.

Padahal sesungguhnya rambu lalu lintas dibuat adalah untuk mengatur jalan raya agar nyaman dirasakan semua pihak. Rambu juga dibuat untuk menciptakan rasa aman bagi siapapun yang ada di jalan, baik yang berjalan kaki ataupun yang berkendara. Sayangnya, faktor-faktor penting ini sering diabaikan dan tidak diindahkan.

Padahal sudah banyak kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh minimnya ketaatan terhadap rambu. Korban nyawa dan harta yang tidak sedikit sebagai akibat kecelakaan di jalan raya hampir setiap saat terjadi. Ironis sekali ketika nyawa tidak lagi berharga di mata para pengguna jalan.

Baca juga: Sebuah Catatan Tentang Pemilu Presiden

Oleh karena itu, persoalan ketaatan terhadap rambu lalu lintas saya anggap penting dan perlu diangkat menjadi tema kultum singkat dalam kesempatan ini.

Persoalan mentaati rambu lalu lintas selanjutnya saya kaitkan dengan masalah ibadah dan ketaatan.

Tolong jawab pertanyaan saya, menurut Anda traffic light saat berwarna merah apakah menghambat perjalanan atau menyelamatkan Anda? Saya berharap Anda akan menjawab bahwa lampu merah itu menyelematkan Anda sampai ke tujuan dan bukan sebaliknya.

Saat berada di perempatan, Anda dan orang lain diatur dengan traffic light. Jika lampu berwarna hijau maka silahkan melaju. Jika kuning maka hati-hati dan rem kendaraan untuk persiapan berhenti. Dan pas berwarna merah maka siapapun harus menghentikan kendaraannya. Bayangkan jika tanpa adanya lampu pengatur lalu lintas di semua perempatan. Betapa kroditnya dan sunggguh berbahaya bagi setiap yang melintas.

Ingat, saat traffic light menunjukkan warna merah maka Anda harus berhenti, menahan diri untuk tidak melaju beberapa saat. Menahan diri agar tercipta kelancaran dan kenyamanan bersama di jalan raya.

Terkait dengan kesadaran untuk menahan diri, maka saya jadi ingat satu kisah tentang pasukan Thalut yang harus berperang melawan Jalut yang raksasa. Saat dalam perjalanan, mereka ditimpa keletihan dan rasa haus yang sangat karena perbekalan air telah habis. Mereka berharap menemukan air dan akan meminumnya dengan sepuas-puasnya untuk menghilangkan dahaga.

Kemudian Allah mengujinya. Mereka benar-benar mendapatkan air, tidak sekedar seteguk melainkan benar-benar air yang melimpah karena berupa sungai. Meski menjumpai air yang melaimpah, mereka diingatkan untuk tidak meminum dengan berlebihan kecuali hanya seciduk telapak tangan.

Rupanya, peringatan untuk tidak meminum secara berlebihan kecuali hanya seciduk tangan tidak diindahkan. Mereka benar-benar melampiaskan rasa suka citanya dan bersenang-senang dengan air. Mereka meminum air dengan sepuas-puasnya hingga perutnya kekenyangan dan tidak mampu lagi meneruskan perjalanan untuk melawan Jalut. Tinggal sedikit pasukan yang benar-benar mentaati peringatan untuk tidak minum air kecuali hanya seciduk tangan.

Peristiwa ini diceritakan oleh Allah dalam QS. al-Baqarah: 249

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلاَّ مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ قَالُوا لاَ طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا اللهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Berdasar ayat di atas maka dapat dipahami akan arti pentingnya menahan diri, tidak melakukan sesuatu dan berpuasa. Ingat, tidak selamanya kebaikan itu identik dengan tindakan aktif. Terkadang dengan kepasifan juga adalah kebaikan.

Banyak kisah dalam Al-Quran tentang perintah untuk menahan diri (puasa). Nabi Adam diperintah untuk menahan diri dari buah suatu pohon (“buah khuldi”). Nabi Musa diperintah untuk menahan diri dari bertanya kepada Nabi Khidhir. Peringatan Allah kepada umat Nabi Shalih untuk menahan diri dari mengganggu seekor sapi. Perintah menahan diri kepada Yusuf as untuk tidak menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya. Dan perintah kepada Maryam untuk menahan diri dari bicara kepada masyarakat sekitar tentang putranya, Isa as.

Sungguh ada banyak kisah dalam Al-Quran tentang perintah menahan diri atau puasa. Umat Islam juga diperintah untuk banyak menahan diri di siang hari hingga waktu Maghrib ketika bulan Ramadhan.

Puasa itu ibadah yang unik. Sebuah ibadah yang prinsip dasarnya adalah menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu. Puasa itu ibadah aktif dalam kepasifan.

Baca juga: Pelaku Hoaks Wajib Minta Maaf Kepada Objek yang Difitnah

Puasa adalah sebuah didikan untuk menahan diri agar selamat sampai tujuan. Ingat, hidup di dunia ini adalah sebuah perjalanan menuju akhirat. Dengan berpuasa Anda diajak untuk selamat sampai akhirat. Sebagaimana perjalanan seorang pengendara kendaraan, agar selamat sampai tujuan diperlukan kesediaan untuk menahan diri saat di jalan raya. Kesediaan untuk mentaati rambu lalu lintas meskipun harus dengan berhenti dan tidak menjalankan kendaraannya saat lampu merah menyala.

Sekiranya kita sungguh menyadari akan pentingnya menahan diri maka tidak akan pernah tergesa-gesa di jalan raya sehingga membahayakan orang lain. Sekiranya kita menyadari pentingnya warna merah traffic light di perempatan, maka kita akan menahan diri dan sabar menunggu hingga kembali warna hijau menyala.

Demikian juga dalam kehidupan yang luas, sekiranya masyarakatnya memiliki kemampuan menahan diri yang hebat maka tidak ada tindak kedzaliman, merugikan orang lain, tidak ada orang korupsi, tidak ada penyebaran hoax, tidak ada tindak kekerasan.

Maka jangan anggap remeh soal kesadaran dan kesediaan berhenti saat traffic light berwarna merah. Karena itu adalah salah satu bentuk puasa yang memberikan dampak positif bagi kita dan orang lain, menciptakan kenyamanan dan menjadi salah satu ikhtiar kita untuk memperoleh keselamatan.

Ditulis ulang dari tulisan Dr. Suwito
dosen IAIN Purwokerto
source: http://suwitons.com/2017/06/12/seri-eko-sufisme-38-puasa-fikih-lalu-lintas/

Sodikin Masrukin Pemerhati pendidikan, sosial-budaya dan kajian Islam yang tinggal di Kab. Purbalingga. Adalah alumnus IAIN Semarang (S1) dan IAIN Purwokerto (S2).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *