Sodikin Masrukin Pemerhati pendidikan, sosial-budaya dan kajian Islam yang tinggal di Kab. Purbalingga. Adalah alumnus IAIN Semarang (S1) dan IAIN Purwokerto (S2).

Hoax Dalam Pandangan Islam

Hoax dalam pandangan Islam. Islam merupakan Agama yang lengkap dalam memberikan tata aturan kehidupan manusia. Penjelasan mengenai hal-hal yang diperintahkan dan dilarang untuk dilakukan sangat jelas dan komprehensif. Termasuk di dalamnya adalah penjelasan mengenai dampak yang harus ditanggung baik secara individu maupun kolektif sosial jika melakukan hal-hal yang buruk.

Seperti diketahui ada banyak hoax, berita bohong atau haditsul ifki (حديث الافك) yang beredar luas di tengah masyarakat. Keberadaannya sangat mudah beredar di antara banyak manusia dari berbagai kalangan karena didukung oleh laju teknologi seperti smartphone yang di dalamnya tertanam berbagai aplikasi media sosial.

Hoax dalam pandangan Islam: Disebar secara Masif

Banyaknya kebohongan yang dibuat dan kemudian di-share secara masif akan mengakibatkan munculnya post truth di tengah-tengah masyarakat. Kebohongan dan kedustaan yang nyata kemudian semakin memudar yang akhirnya dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Ironisnya, kebohongan dan kedustaan yang nampak sebagai kebenaran tersebut kemudian secara berantai dan masif dibagikan di berbagai media sosial. Dan lebih ironis lagi, sikap sebagian masyarakat yang langsung percaya dan membenarkan bahkan terlibat dalam mem-forward pesan-pesan dusta tersebut tanpa pernah mau ber-tabayyun sebagaimana yang diperintahkan Al-Aqur’an dalam surat al-Hujurat : 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Meski telah secara eksplisit Allah memerintahkan untuk selalu ber-tabayyun jika menerima kabar berita, sayangnya sebagian dari kita tidak melakukannya bahkan secara aktif mem-forward ke berbagai media sosial.

Baca juga: Fungsi-fungsi Manajemen Menurut Para Ahli

Seperti diketahui bahwa ada banyak hoax atau haditsul ifki beberapa waktu yang lalu ketika menjelang, saat dan sesudah pemilu 2019. Berdasarkan data dari Kominfo selama masa kampanye terdapat 1000 berita dusta, selama April 2019 ada 486 hoax dan saat pemilu beredar 62 hoax, bahkan 3 hari sesudah pemilu pun masih terdapat 64 hoax.

Tujuan Penyebaran Hoax

Berita hoax yang tersebar di tengah masyarakat bertujuan untuk menciptakan kekacauan dan membunuh karakter seseorang (character assassination). Dengan menyebarkan hoax pelakunya berharap situasi menjadi panas dan chaos. Dan ia bisa mengambil untung atas apa yang terjadi, baik keuntungan secara ekonomi, politik, maupun lainnya.

Sedangkan haditsul ifki yang bertujuan character assasination, pelakunya berharap bahwa dengan beredarnya berita dusta di tengah-tengah masyarakat, tokoh sasaran kebohongannya akan jatuh, moral dan mentalnya menjadi down, dan public trust terhadapnya akan runtuh.

Hoax dalam pandangan Islam: Pada Masa Nabi Atau Rasul

Character assasination melalui penyebaran hoax pun pernah dialami Sayyidatina ‘Aisyah binti Abi Bakar, Istri Rasulullah SAW. Beliau diisukan berselingkuh dengan Shafwân bin al-Mu’atthal as-Sulami.

Kisah tersebut berawal ketika beliau yang memperoleh giliran untuk menyertai Rasulullah SAW dalam perang Muraisi’. Katika dalam perjalanan pulang menuju Madinah pasca peperangan, beliau kehilangan kalungnya. Oleh karena itu beliau mencarinya. Dan saat keluar dari rombongan untuk mencari kalung, tidak ada yang tahu.

Ketika rombongan pasukan melanjutkan perjalanan menuju Madinah, tidak ada yang menyadari bahwa Sayyidatina ‘Aisyah tidak ikut rombongan. Dan Sayyidatina ‘Aisyahpun tidak tahu jika rombongan pasukan sudah melanjutkan perjalanan dan meninggalkannya.

Ketika beliau telah menemukan kalungnya maka bergegas menuju rombongannya. Barulah beliau tahu jika rombongannya telah meninggalkannya.

Singkat kisah, akhirnya Sayyidatina ditemukan oleh sahabat Nabi bernama Shafwân bin al-Mu’atthal as-Sulami yang merupakan pasukan penyapu yang ditugaskan untuk pulang paling akhir. Dan Sayyidatina ‘Aisyah disuruh untuk naik untanya tanpa menyentuh sedikitpun. Dan Shafwân bin al-Mu’atthal as-Sulami menuntun untanya hingga sampai Madinah.

Keterlambatan kepulangan Sayyidatina ‘Aisyah yang bersama seorang laki-laki tersebut oleh orang-orang munafik pimpinan Abdullah ibnu Ubay Ibnu Salul kemudian diolah, digoreng dan disebarluaskan sebagai perselingkuhan. Hoax yang dilakukan oleh Ibnu Salul tersebut bahkan menyebkan sebagaian sahabat Nabi seperti Misthah bin Utsâtsah (sepupu Abu Bakr ash-Shiddiq), Hassân bin Tsâbit dan Hamnah bintu Jahsy terpedaya, bahkan dikisahkan ikut andil dalam menyebarkan hoax tersebut.

Baca juga: Konsep dan Pengertian Manajemen

Berita hoax itu kemudian membuat Sayyidatina ‘Aisyah jatuh sakit karena tak kuasa menahan beban fitnah uang menderanya. Beliaupun meminta ijin kepada Nabi untuk sementara tinggal di rumah orang tuanya, Abu Bakr ash-Shiddiq. Nabi sendiripun sungguh sedih dan ragu akan peristiwa tersebut, antara percaya dan tidak. Sayyidatina ‘Aisyah pun berdoa, semoga Allah menerangkan peristiwa yang sesungguhnya terjadi melalui wahyu Kepada Nabi-Nya.

Do’a Sayyidatina ‘Aisyah didengar Allah SWT. Allah kemudian menjelaskan peristiwa tersebut melalui firman-Nya yang tertuang dalam 10 ayat surat an-Nur : 11-20. Maka legalah semuanya, terutama Sayyidatina ‘Aisyah dan Sayyidina Muhammad SAW. Dan Allah telah memperjelas bahwa isu yang beredar tentang perselingkuhan tersebut hanyalah hoax yang dibuat oleh orang-orang munafik yang bertujuan untuk Character assasination.

Sungguh jahat dan nista orang-orang yang menjadi pembuat dan penyebar berita dusta yang dalam istilah lain disebut dengan fitnah. Seakan mereka lupa bahwa Allah SWT telah mengingatkannya sebagaimana firman-Nya dalam surat An-Nur: 15 dan 19:

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللهِ عَظِيمٌ

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal dia di sisi Allâh adalah besar. (15)

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allâh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (19)

Melalui kedua ayat tersebut, yang pertama Allah mempertanyakan sikap orang-orang yang menganggap hoax adalah sesuatu yang biasa saja, ringan dan no problem. Padahal menurut Allah hoax atau haditsul ifki adalah sesuatu berat, masalah serius, dan menghancurkan.

Kedua, secara tegas Allah menjelaskan risiko bagi orang-orang (pembuat dan penyebar hoax) yang lebih suka tersebarnya kedustaan di antara mereka dengan wa’id (janji ancaman) berupa siksa pedih di dunia dan akhirat.

Baca juga: Urgensi atau Pentingnya Manajemen

Penutup tentang Hoax dalam Pandangan Islam

Terkait dengan hoax dalam pandangan Islam ada atu pertanyaan, Apakah Anda sekalian tidak takut dengan janji ancaman Allah yang tidak pernah terelakkan dan pasti terjadi. Dan jika itu terjadi maka tidak rasa iba dan kasihan dari Allah SWT. Maka berhati-hatilah saat menggunakan pikiran untuk membuat konsep, mulut untuk menyebarkan dan jari kita untuk menulis dan men-forward hoax. Sungguh, hindarkan ketiganya dari keterlibatan terhadap hoax atau haditsul ifki.

Allah saja menganggap hoax adalah sesuatu yang serius dan berat, mengapa kita menganggapnya ringan dan biasa-biasa saja? Mengapa kita berani bertentangan dengan Allah, Tuhan yang siksa-nya teramat pedih tiada tara? Masihkah kita akan melibatkan diri dalam urusan membuat dan menyebarkan hoax atau haditsul ifki sementara ancaman siksanya demikian pedih tiada tara di dunia dan akhirat?

Saya berharap, kita semua menghidarkan diri dari terlibat hal yang oleh Allah dianggap berat dan sangat serius. Menjauh dari hal yang berdampak sangat negatif dan merusak tersebut.

Demikian kajian Islam seputar hoax dalam pandangan Islam.

Sodikin Masrukin Pemerhati pendidikan, sosial-budaya dan kajian Islam yang tinggal di Kab. Purbalingga. Adalah alumnus IAIN Semarang (S1) dan IAIN Purwokerto (S2).

2 Replies to “Hoax Dalam Pandangan Islam”

  1. Sebelum menyebarluaskan berita, sebaiknya kita cek dan ricek dulu kebenarannya. Sehingga apa yg kita sebarkan benar2 adalah berita yg benar adanya.

    Semoga kita diberikan ketetapan hati untuk selalu terjaga dan tdk mudah dlm menyebarkan berita yg belum pasti akan kebenarannya. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *