Sodikin Masrukin Pemerhati pendidikan, sosial-budaya dan kajian Islam yang tinggal di Kab. Purbalingga. Adalah alumnus IAIN Semarang (S1) dan IAIN Purwokerto (S2).

3 Bekal Bagi Para Penghafal Al-Quran

3-bekal-bagi-para-penghafal-al-quran

lintas12.com3 bekal bagi para penghafal Al-Quran. Alquran mudah untuk dibaca dan dihafal bagi siapapun. Kemudahan itu sudah digaransi oleh Allah SWT. Oleh karenya, tak ada alasan bagi seseorang untuk menghindar dan berpaling dari belajar membaca dan menghafal Alquran. Tidak ada dalih susah atau sulit sekedar untuk tidak menghafalnya. Allah telah berfirman dalam QS al-Qamar : 17.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya Kami telah memudahkan Alquran untuk pelajaran maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”.

Mari kita mencoba untuk memperhitungkan bersama. Bila Anda secara konsisten berkenan menghafal satu ayat dalam satu hari maka Anda akan bisa selesai menghafal AL-Quran dalam 17 tahun, tujuh bulan, plus sembilan hari. Waktu yang dibutuhkan bisa selama itu karena menggunakan asumsi bahwa jumlah ayat lebih dari 6.220 ayat. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama Makkah.

Perhitungannya adalah sebagai berikut:

17x 360 hari = 6120 hari. Kemudian jumlah tersebut ditambah dengan tujuh bulan sembilan hari. Jadi total keseluruhannya menjadi 6.339 hari. Bila menghafal satu hari dua ayat maka hafalan Anda akan selesai dalam delapan tahun, sembilan bulan, plus 18 hari. Bila Anda konsisten menghafal maka proses itu menjadi tidak terasa.

Ketahuilah, bahwa para penghafal Alquran membawa tugas dan misi yang mulia. Jaminan bagi mereka adalah akan memperoleh kemuliaan dalam kehidupan di dunia dan kehidupan akhirat. Secara tegas dan jelas, bahwa Allah memuliakan para penghafal Al-Quran itu melalui lisan Nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam riwayatnya, bahwa para penghafal Kitab Suci itu akan dihias kepalanya dengan mahkota kemuliaan. Hal ini dikarenakan Sang Khaliq, Allah SWT memberikan ridhaan-Nya kepada mereka. Dan kebaikannya pun akan terus bertambah seiring dengan lantunan ayat Al-Quran dari lisannya.

Para penghafal Alquran,ditegaskan juga dalam hadis riwayat Ahmad, bahwa mereka merupakan ‘keluarga’ Allah di muka bumi ini. Keutamaan ini pulalah yang menyebabkan Nabi Muhammad SAW memuliakan para penghafal Alquran dari kalangan sahabat. Saat Perang Uhud terjadi dan tidak sedikit sahabat yang gugur dalam pertempuran itu, tak terkecuali sahabat penghafal Al-Qur’an.

Dan Rasul lebih mendahulukan sahabat penghafal Alquran untuk dimakamkan terlebih dahulu. “Siapakah di antara mereka yang hafal Alquran?” demikian jawaban Nabi SAW atas pertanyaan sahabat tentang siapa yang harus didahulukan.

Ketika Rasul masih hidup, gairah untuk menghafal Alquran di kalangan sahabat sungguh sangatlah tinggi. Di antara banyak dari kalangan pemuda. terdapat banyak nama anak muda saat itu yang tertarik untuk menghafal Alquran. Sebut saja nama-nama Amar bin Salamah, al-Barra’ bin ‘Azib,  Zaid bin Haritsah, dan Zaid bin Tsabit. Bahkan  Zaid bin Tsabit yang berusia sangat muda saat itu sudah masuk dalam daftar sahabat penulis wahyu. Dan ketika Abu Bakar menjadi Khalifah bagi kaum mukminin, Zaid bin Tsabit masuk dalam tim kodifikasi Alquran.

Bekal Menghfal Al-Quran

Terdapat hal-hal penting yang harus dipahami oleh para hafidh Alquran. Mereka harus mematuhi berbagai etika dan aturan agar proses penghafalan Al-Quran memperoleh berkah dari Allah SWT.

Menurut Syekh Qahthan Birqadar ada beberapa bekal dan turan dasar yang harus ditatati oleh para penghafal Alquran. Bekal menghafal Al-Quran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Meluruskan niat.

Meluruskan niat merupakan bekal paling utama bagi para penghafal Al-Quran. Mendapatkan keridhaan Allah harus dijadikan motivasi satu-satunya bagi yang menghafal Alquran. Tidak boleh berorientasi pada mendapatkan popularitas, ketenaran, yang berjalan linier dengan melimpah ruahnya harta yang diperoleh.

Ingta, niat memndapatkan duniawi tidak akan berbuah manis. Jadikan pelajaran tentang sebuah kisah yang terdapat dalam hadis riwayat Muslim. Siapapun yang belajar dan mengajarkan Kitab Suci Al-Quran itu harus menerima siksa yang disebabkan tujuannya yang salah, yaitu hanya ingin memperoleh pujian dan dielu-elukan manusia.

2. Menyempurnakan hafalan Al-Quran dengan praktik dan pengalaman Alquran

Syekh Qahthan menambahkan bekal bagi para penghafal Al-Quran agar mereka senantiasa menyempurnakan proses hafalannya dengan pengalaman Alquran. Artinya, para penghafal Al-Quran harus mengamalkan etika, nilai, dan ajaran yang terkandung di dalam Al-Quran. Jadilah penghafal Al-Quran yang selalu terdepan dalam hal moralitasatau akhlak keseharian. Tetap rendah hati dan tidak takabur atau sombong di hadapan manusia.

Ingatlah wahai saudara, bahwa Al-Quran adalah saksi kita kelak di hari akhirat saat semua amal diperhitungkan oleh Allah. Renungkan Sabda Rasul riwayat Muslim bahwa, “Alquran merupakan saksi bagi kebaikan ataupun keburukanmu,”.

3. Istikomah dalam mengulang-ulang hafalan atau muraja’ah

Jaga konsistensi atau sikap istikomah dalam muraja’ah atau mengulang-ulang hafalan. Hal ini penting dan tetap dilakukan untuk menjaga dan membentengi hafalan yang dianugrahkan oleh Allah tidak hilang dari akal dan hati.

Ketahuilah bahwa muraja’ah atau mengulang untuk menjaga hafalan adalah lebih sulit dari proses menghafal itu sendiri. Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dinyatakan bahwa:

“Memelihara hafalan itu jauh lebih berat dan sulit daripada mengikat seekor unta,”.

Saat ini terdapat banyak sarana yang dapat dimanfaatkan guna melakukan proses muraja’ah atau menjaga hafalan dengan mengulang. Sebut saja dengan menjadi imam shalat, mendengarkan bacaan Al-Quran lewat aplikasi dan gadget MP3, saling sima’an atau bertukar bacaan, dan lain sebagainya. Dan pastinya, hal tersebut akan menjadi lebih utama jika dilakukan dengan bimbingan ustadz yang berkompeten dalam bidang hafalan Al-Quran.

Demikian 3 bekal bagi para penghafal Al-Quran. Jika Anda berniat untuk menghafal Al-Quran perhatikan rambu dan aturan yang harus ditaati.

Sodikin Masrukin Pemerhati pendidikan, sosial-budaya dan kajian Islam yang tinggal di Kab. Purbalingga. Adalah alumnus IAIN Semarang (S1) dan IAIN Purwokerto (S2).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *