Sodikin Masrukin Pemerhati pendidikan, sosial-budaya dan kajian Islam yang tinggal di Kab. Purbalingga. Adalah alumnus IAIN Semarang (S1) dan IAIN Purwokerto (S2).

Kultum Menyambut Hari Ibu

Kultum Menyambut Hari Ibu 22 Desember. Ibu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online diartikan dengan 5 macam arti, (1) yaitu wanita yang telah melahirkan seseorang (mak); (2) kata sapaan untuk wanita yang sudah bersuami; (3) sapaan takzim (penghormatan) kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; (4) bagian yang pokok (besar, asal); (5) yang utama di antara beberapa hal lain (yang terpenting).

Dalam konteks tema kuliah tujuh menit (kultum) kali ini, yang akan dibahas adalah ibu dengan arti “wanita yang sudah melahirkan seseorang”. Meski demikian, dari kesemua arti kata “ibu” menunjukkan bahwa ibu adalah sesuatu yang sangat utama, terpenting dan merupakan yang pokok.

Dari keseluruhan arti tersebut semuanya menunjukkan makna tersirat tentang kebesaran seorang ibu.

Kultum Menyambut Hari Ibu 22 Desember: Eksistensi Perempuan Sebelum kedatangan Islam

Meski dalam sejarah lampau telah tercatat nama perempuan menjadi pemimpin atau ratu, seperti Bilqis (Ratu negeri Saba, penyembah Matahari) yang hidup pada zaman Nabi Sulaiman dan diabadikan oleh Allah dalam al-Qur’an, namun sejarah perempuan lebih didominasi oleh kisah pilu. Meski perempuan mampu melahirkan laki-laki yang bisa mejadi raja, pemimpin suku atau kabilah, dan sebagainya tetapi eksistensinya tetap dianggap sebagai pelengkap kaum laki-laki.

Dalam keadaan tertentu perempuan tak lebih dari sekedar pemuas nafsu lelaki. Bahkan terkadang menjadi hadiah dari seseorang kepada orang lain. Seorang raja taklukan terkadang menghadiahkan perempuan kepada sang raja penakluk.

Kondisi perempuan yang termarjinalkan seperti itu, berlangsung terus menerus dan berabad-abad. Nasibnya tak pernah berubah hingga sampai ke zaman arab jahiliyah.

Perempuan di zaman Arab jahiliyah lebih tragis. Para laki-laki atau ayah yang mempunyai istri hamil dihantui kekhawatiran jika anak yang lahir nanti adalah perempuan. Bagi mereka adalah aib besar dan akan mempermalukanya jika benar lahir dari rahim istrinya adalah perempuan.

Kelahiran anak perempuan adalah benar-benar aib yang besar sehingga sebagian kaum laki-laki tak mampu menahan rasa malunya. Jika sampai pada kondisi ini, maka tak sedikit bayi perempuan yang dilahirkan kemudian dibunuh. Bahkan cara yang digunakan adalah sangat kejam, yaitu dengan cara dikubur hidup-hidup.

Sungguh ironis, mereka lupa bahwa yang menyebakan mereka ada dan hidup di dunia ini adalah lahir dari seorang perempuan. Tapi itulah kenyataannya. Sampai detik tersebut nasib perempuan tetap sama dan tidak mengalami perubahan.

Kultum Menyambut Hari Ibu 22 Desember: Perempuan dalam pandangan Islam

Kedatangan Islam membuat nasib perempuan berubah. Islam mendudukan perempuan sederajat dengan pria. Tidak ada yang membedakan kecuali jenis kelamin dan tugas tanggung jawabnya.

Kesempatannya untuk bermal shaleh, memperoleh derajat iman dan takwa yang tinggi, ampunan dan juga surga Allah adalah sama dengan kesempatan yang diberikan kepada kaum laki-laki. Islam tidak membedakan di antara laki-laki dan perempuan dalam kontek ini.

Anggapan bahwa Islam melalui ajaran yang terkandung di dalam al-Qur’an dan Hadits Rasulullah mendiskriminasi perempuan adalah tidak benar. Anggapan tersebut sesungguhnya juga pernah disampaikan para kaum perempuan di zaman Rasul. Seorang bernama Ummu Imarah Al-Anshariyah yang mewakili kaum perempuan menghadap Nabi seraya berkata:

“kami melihat semuanya diperuntukkan khusus untuk kaum laki-laki. Kami melihat tak sekalipun perempuan disebut dalam al-Qur’an”.

Hal ini juga pernah diceritakan oleh Ibnu Abbas. Dalam ceritanya disebutkan bahwa terdapat beberapa perempuan menjumpai Rasulullah untuk menyampaikan keluhan tentang selalu disebutnya laki-laki beriman, “Wahai Utusan Allah, mengapa kaum mukminin (laki-laki beriman) selalu disebut, dan kenapa kaum mukminat (perempuan beriman) tidak pernah disebut?”

Protes kaum perempuan ini kemudian dibantah oleh Allah dengan menurunkan firman-Nya sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an surat al-Ahzab : 35 yang berbunyi:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya laki-laki muslim (muslimin) dan perempuan yang muslim (muslimat), laki-laki beriman (mukminin) dan perempuan beriman (mukminat), laki-laki taat (qanitin) dan perempuan taat (qanitat), laki-laki yang benar (shadiqin) dan perempuan yang benar (shadiqat), laki-laki sabar (shabirin) dan perempuan sabar (shabirat), laki-laki khusu’ (khasyiin) dan perempuan khusyu’ (khasyiat), laki-laki bersedekah (mutashaddiqin) dan perempuan bersedekah (mutashaddiqat), laki-laki berpuasa (shaimin) dan perempuan berpuasa (shaimat), laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya (hafidzin – hafidzat), laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah (dzakirin – dzakirat), Allah sudah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang sangat besar.

Jelaslah bahwa Islam tidak pernah mendiskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Semuanya diberi kesempatan yang sama untuk memperoleh ampunan dan pahala yang besar dari Allah SwT.

Di kalangan umat Islam beredar ungkapan:

اَلْمَرْاَةُ عِمَادُ الْبِلَا دِ اِذَا صَلُحَتْ صَلُحَتِ الْبِلاَ دُ وَاِذَا فَسَدَتْ فَسَدَتِ الْبِلاَ دُ

perempuan merupakan tiang negara. Jika perempuannya baik maka baik pulalah negara. Dan jika perempuannya rusak, maka rusak pulalah negara.

Meski bukan hadits, ungkapan ini mengandung pesan yang kuat tentang posisi penting perempuan dalam negara. mereka menjadi penentu jatuh bangunnya sebuah negara. Dan hal ini mengindikasikan adanya pengakuan akan tingginya kedudukan perempuan.

Perempuan dalam kontek Indonesia

Dalam sejarah perempuan Indonesia, khususnya jawa, pernah juga mengalami diskriminasi perlakuan meskipun tidak setragis yang dialami perempuan zaman arab jahiliah dulu. Paling tidak, jika dilihat dari beberapa ungkapan populer di jawa tentang perempuan maka terlihat bagaimana kedudukan perempuan bagi laki-laki. Ungkapan seperti “wong wadon iku mung konco wingking” (perempuan itu sekedar teman belakang/tidak penting) dan “pegaweane wong wadon iku ing kasur, sumur lan dapur” (tugas perempuan itu hanya nemani suami di tempat tidur, mencuci pakaian di sumur, dan memasak di dapur).

Baca juga: Penetapan 1 Ramadhan 1440 H

Ungkapan-ungkapan itu mengindikasikan bahwa perempuan tidak mempunyai kesempatan yang luas untuk mengembangkan diri agar bisa berbuat lebih dan memberikan manfaat yang sangat banyak kepada lingkungannya.

Sekarang tidak lagi demikian. Bagi perempuan Indonesia benar-benar telah terbuka lebar kesempatan. Mereka bisa dan boleh berkarya sesuai bidang yang diinginkannya demi bermnafaat bagi bagsa dan negara. Bidang pendidikan, hukum, militer, kepolisian, ekonomi, kesehatan, politik dan berbagai bidang lainnya tak lepas dari tangan-tangan kaum perempuan.

Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa perempuan adalah ibu dari anak-anaknya. Seorang ibu mempunyai tanggung jawab besar akan masa depan putra putrinya.

Seorang ibu harus mempunyai kesadaran tinggi akan tanggung jawab ini. Setinggi apapun karir yang dicapai dan sesibuk apapun seorang ibu dalam pekerjaannya, tetap tidak boleh melupakan qodratnya sebagai ibu. Seorang ibu harus bisa mempersiapkan anak-anaknya untuk kehidupannya di masa yang akan datang.

Ada nasehat yang dinisbahkan kepada Imam Ali, yang dapat diambil hikmahnya:

عَلِّمُوْا أَوْلاَدَكُمْ عَلَى غَيْرِ شَاكِلَتِكُمْ فَإِنَّهُمْ مَخْلُوْقَاتٌ لِزَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ

Didiklah anak-anakmu dengan cara yang berbeda dengan cara kalian (dahulu). Karena mereka adalah makhluk yang hidup untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu.

Dalam kontek kekinian, seorang ibu mempunyai peran ganda yaitu peran publik dan peran domestik. Peran publik adalah peran yang diembannya di dunia luas, di luar rumah. Bisa saja sebagai guru, tentara, polisi, dokter, menteri, presiden atau yang lain. Tetapi tidak boleh melupakan peran domestiknya, yaitu tanggung jawab untuk mengurus juga yang di rumah.

Demikian Kultum Menyambut Hari Ibu – kultum singkat tentang ibu dalam rangka menyambut hari Ibu, 22 Desember. Semoga bermanfaat.

Sodikin Masrukin Pemerhati pendidikan, sosial-budaya dan kajian Islam yang tinggal di Kab. Purbalingga. Adalah alumnus IAIN Semarang (S1) dan IAIN Purwokerto (S2).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *