Sodikin Masrukin Pemerhati pendidikan, sosial-budaya dan kajian Islam yang tinggal di Kab. Purbalingga. Adalah alumnus IAIN Semarang (S1) dan IAIN Purwokerto (S2).

Menuntut Ilmu Tak Terbatas Batas Usia

menuntut-ilmu-tak-terbatas-batas-usia

Menuntut ilmu tak terbatas batas usia. Pastilah tak ada alasan untuk tak belajar meski di umur senja (sudah tua). Juga tak ada kata telat untuk kembali menganalisis dan memperdalam ilmu-ilmu Islam. Dak tak perlu pula muncul rasa malu atau minder sebab dianggap telah terlambat untuk mengawali menelaah ilmu Islam.

Kenyataannya, banyak sekali dalam sejarah Islam dikisahkan, betapa sangat banyak orang-orang yang meski sudah lanjut usia atau uzur, tetapi tidak ada rasa sungkan untuk memulai belajar ilmu agama.

Ibnu Mandah memulai berangkat menuntut ilmu saat umur berada di angka 20 tahun serta menghabiskan usianya selama 45 tahun di perantauan untuk menuntut ilmu. Ketika umur yang sudah senja, yaitu 65 tahun, beliau baru pulang dan berubah menjadi ulama besar di kampung halamannya.

Ada juga seperti yang dikisahkan oleh Ja’far bin Durustuwaih, yaitu suatu kali saat ia berada dalam suatu majelis ilmu Ali bin Al-Madini. Di kala waktu Ashar tiba, majelis itu ternyata sudah penuh sesak oleh para penuntut ilmu yang baru akan diawali esok harinya. Tiap pelajar tampak tak berkeinginan untuk meninggalkan tempat dimana mereka duduk. Mereka takut tempat duduknya akan diisi oleh orang lain ketika ia beranjak. Mereka tak lelah menungguinya sepanjang malam agar ketika pembelajaran dimulai mendapat posisi terbaik yaitu yang berada di depan.

Malahan ada seorang bapak yang sudah tua, menurut kisah Ja’far, rela buang air kecil di jubahnya, karena ia takut dan khawatir untuk pergi ke kamar mandi dan meninggalkan posisi duduknya.

“Aku sungguh memperhatikan seorang yang telah uzur di majelis ilmu Ali bin Al-Madini. Ia membuang air kecil di jubahnya. Ternyata itu dilakukan karena dia cemas tempat duduknya diduduki orang lain bilamana dia berdiri dan pergi untuk membuang air kecil ke kamar mandi,” tutur Ja’far mengisahkan.

Pelajaran yang bisa diambil adalah, betapa antusiasnya orang-orang terdahulu dalam mencari ilmu agama.

Sebagaimana dalam kisah Ja’far di atas, orang yang sudah tua dan renta sekalipun tak akan surut motivasi dan semangatnya untuk belajar dibandingkan orang yang masih muda.

Ingat, motivasi dan semangat inilah yang saat ini telah pudar pada umat Islam. Motivasi dan semangat menuntut ilmu kian pudar, seiring bertambahnya umur dan makin uzur. Meskipun, diketahui bahwa kewajiban menuntut ilmu tak pernah berkurang meski umur telah bertambah makin tua.

Baca juga: Warisan Peradaban di Museum Seni Islam

Dunia pendidikan dan pengajaran sudah lama mendengungkan istilah long life education atau pendidikan seumur hidup. Meski juga pengakuan negara seperti tertuang dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 seputar penegasan akan pendidikan seumur hidup yang dikemukakan dalam pasal 13 ayat 1. Meski, hakekatnya Islam sendiri telah mengemukakan terlebih dulu istilah ini. Alangkah sangat banyak kisah-kisah yang menampilkan figur yang mulai menuntut ilmu ketika sudah uzur atau menuntut ilmu hingga usia tua seakan usia tak menghalanginya untuk menuntut ilmu.

Dunia sains abad modern sekarang ini sudah membuktikan bahwa otak manusia masih bisa diaplikasikan dalam banyak urusan untuk waktu ratusan bahkan hingga ribuan tahun.

Tahukah sahabat, bahwa manusia hanya menggunakan dan memanfaatkan otak yang dianugrahkan Tuhan tak lebih dari 10 persen. Maka hal ini membuktikan, sesungguhnya kapasitas dan daya tampung otak manusia tidak akan pernah penuh. Otak manusia akan dapat diaplikasikan untuk mempelajari apapun, meski oleh orang yang sudah tua renta dan berusia ratusan tahun.

Baca juga: AS Akhiri Operasi Serangan Udara Lawan ISIS

Jadi, prinsip dari semua ini adalah jangan pernah membatasi diri untuk belajar dengan usia.

Demikian artikel tentang Menuntut ilmu tak terbatas batas usia. Baca terus Lintas12 untuk memperoleh informasi terbaru seputar peradaban dan dunia Islam.

Sodikin Masrukin Pemerhati pendidikan, sosial-budaya dan kajian Islam yang tinggal di Kab. Purbalingga. Adalah alumnus IAIN Semarang (S1) dan IAIN Purwokerto (S2).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *