Hikmah Idul Fitri

hikmah-idul-fitri-artikel-pendidikan-keislaman

Hikmah Idul Fitri. Baru saja kita meninggalakn bulan Ramadan. Dimana setiap orang beriman diwajibkan didalamnya berpuasa. Dan setelah menjalankan kewajiban yang hanya untuk Allah tersebut, kita merayakan Hari Raya ‘Idul Fitri. Hari yang bagi umat Islam dianggap sebagai hari kemenangan. Kemenangan setelah berperang dan berjuang melawan hawa nafsu, ego dan keserakahan.

Ditandai dengan membayar zakat fitrah, mengumandangkan takbir, tahmid, tasbih dan tahlil kepada Allah SWT, serta shalat ‘Idul Fitri di pai hari 1 Syawwal, orang-orang beriman merayakan kemenangannya dengan kesederhanaan namun tidak mengurangi syukur atas nikmat dan kekhusyukan beribadah kepada Allah. Empati dan simpati kepada orang-orang yang dalamm kepapaan diterapkan dalam perayaan ini. Terlebih ‘Idul Fitri ini masih dalam kondisi belum terbebas dari pandemi Covid-19.

Dalam kesempatan kali ini, Kang Sodikin melalui Artikel Pendidikan dan Keislaman menyampaikan sedikit tadzkir kepada pembaca tentang Hikmah Idul Fitri. Berikut ini beberapa hal penting yang perlu dibaca oleh pembaca budiman:

Orang Beriman Wajib Berpuasa Ramadhan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)

Baca Juga:  Begini Cara Mualaf Menyambut Ramadhan

Ayat ini sangat sering disampaikan para muballigh sebelum dan saat memasuki bulan Ramadan sebagai materi kajian, kultum dan pengaian selama menjalankan ibadah Ramadan, termasuk di tahun 1442 H ini.

Pentingnya Puasa Ramadhan

Terkait dengan pentingnya atau hikmah Puasa Ramadan, Syekh Ibnu Katsir menyebutkan:

لمِاَ فِيْهِ مِنْ زَكَاةِ النَّفْسِ وَطَهَارَتِهَا وَتَنْقِيَتِهَا مِنَ اْلأَخْلَاِط الرَّدِيْئَةِ وَاْلأَخْلَاقِ الرَّذِيْلَةِ. وَلِأَنَّ الصَّوْمَ فِيْهِ تَزْكِيَّةٌ لِلْبَدَنِ وَتَضْيِيْقٌ لِمَسَالِكِ الشَّيْطَانِ

Karena dalam puasa terkandung proses pembersihan, penyucian dan pencucian jiwa (hati) dari endapan-endapan kotor dan akhlak (moral) yang hina. Sungguh dalam ibadah puasa terkandung proses pembersihan diri dan mempersempit jalan-jalan syetan.

Apa yang dikatakan Syekh Ibnu Katsir dalam tafsirnya tersebut sejalan dengan tujuan diwajibkannya puasa bagi orang-orang beriman sebagaimana tertera dalam Al-Baqarah 183, yaitu: Agar kamu sekalian bertakwa.

Tentu saja orang-orang bertakwa tidak akan mempunyai hati yang kotor dan perangai atau moralitas yang rendah. Mereka adalah orang-orang yang berhati bersih dan senantiasa menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan yang merupakan perangkap setan.

Baca Juga:  Kajian Singkat Tentang Kejujuran

Merayakan Idul Fitri Berdasar Petunjuk Allah

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 185)

Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah: 185 di atas, dalam merayakan ‘Idul Fitri harus berdasar pada petunjuk Allah. Sederhananya, perayaan hari kemenangan tidak boleh dengan euforia berlebihan, hura-hura, penuh kesia-siaan, dan pemborosan.

Sayangnya, banyak umat Islam melakukan hal-hal tersebut, baik sebelum, saat maupun sesudah ‘Idul Fitri. Banyak kesia-siaan yang dilakukan dan sekaligus melupakan inti dari puasa Ramadan dan ‘Idul Fitri.

Setelah membaca Hikmah Idul Fitri, sebaiknya baca juga: Pengertian dan dalil roja’.

Hikmah Idul Fitri Menurut Ibnu Rajab

Terkait Hikmah Idul Fitri yang merupakan hari kemenangan bagi orang-orang yang beriman, Ibnu Rajab Berkata:

  1. ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن أمن الوعيد

    Bukanlah ‘Id orang yang memakai pakaian baru. ‘Id hanya bagi orang yang iman akan janji dan ancaman Allah.

  2. ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد

    Bukanlah ‘Id orang yang memakai pakaian baru. ‘Id hanya bagi orang yang ketaatannya kepada Allah bertambah

  3. ليس العيد لمن تجمل باللباس و الركوب إنما العيد لمن غفرت له الذنوب

    ‘Id tidak untuk orang yang berlomba dalam hal pakaian dan kendaraan. ‘Id hanya bagi orang yang dosa-dosa-nya diampuni.

  4. ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن خاف الوعيد

    ‘Id tidak untuk orang yang memakai pakaian baru. ‘Id hanya bagi orang yang takut terhadap ancaman Allah.

Penutup: Hikmah Idul Fitri

Jika mengacu kepada ucapan Ibnu Rajab di atas, maka sesungguhnya yang penting adalah bagaimana kita setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan dan merayakan ‘Idul Fitri. Apakah kita benar-benar beriman akan janji dan ancaman Allah, bertmabah ketaatan kita kepada-Nya bertambah, dan dosa-dosa kita diampuni?

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar bisa mengambil dan melaksanakan Hikmah Idul Fitri?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini