
10 Pendapat dan Perkataan Ulama Salaf tentang Puasa
Ini adalah 10 pendapat dan perkataan para ulama salaf (sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in) mengenai ibadah puasa (As-Siyam), lengkap dengan teks Arab, harakat, terjemahan, dan rujukan kitabnya.
1. Umar bin al-Khattab (Sahabat Nabi)
Tentang hakikat puasa yang bukan sekadar menahan lapar.
“Puasa itu bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi puasa itu adalah menahan diri dari dusta, kebatilan, perkataan sia-sia, dan bersumpah palsu.”
(Rujukan: Mushannaf Ibn Abi Shaybah, No. 8882)
2. Jabir bin Abdullah (Sahabat Nabi)
Tentang adab saat berpuasa.
“Jika kamu berpuasa, maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu ikut berpuasa dari dusta dan dosa-dosa. Janganlah kamu menyakiti pembantumu. Hendaknya kamu memiliki kewibawaan dan ketenangan pada hari puasamu.”
(Rujukan: Mushannaf Ibn Abi Shaybah, No. 8880)
3. Mujahid bin Jabr (Tabi’in)
Tentang hal yang merusak pahala puasa.
“Dua hal yang jika seseorang menjaganya maka puasanya akan selamat: Ghibah (menggunjing) dan dusta.”
(Rujukan: Mushannaf Ibn Abi Shaybah, No. 8895)
4. Hafsah binti Sirin (Tabi’ah)
Tentang puasa sebagai perisai.
“Puasa adalah perisai, selama ia (orang yang berpuasa) tidak merobeknya. Dan robeknya perisai itu adalah dengan ghibah.”
(Rujukan: Kitab az-Zuhd karya Imam Ahmad, hal. 303)
5. Abu al-Aliyah (Tabi’in)
Tentang puasa sebagai ibadah yang berkelanjutan.
“Orang yang berpuasa senantiasa dalam keadaan ibadah selama ia tidak melakukan ghibah, meskipun ia sedang tidur di atas kasurnya.”
(Rujukan: Mushannaf Ibn Abi Shaybah, No. 8898)
6. Ibrahim al-Nakha’i (Tabi’in)
Tentang keutamaan pahala puasa di bulan Ramadan.
“Berpuasa satu hari di bulan Ramadan lebih utama daripada seribu hari (di bulan lainnya), dan satu tasbih di dalamnya lebih utama daripada seribu tasbih (di bulan lainnya).”
(Rujukan: Lata’if al-Ma’arif karya Ibnu Rajab, hal. 151)
7. Abdullah bin Mas’ud (Sahabat Nabi)
Tentang hubungan puasa dan kesabaran.
“Sabar itu adalah setengah dari iman, dan puasa itu adalah setengah dari kesabaran.”
(Rujukan: Al-Mu’jam al-Kabir karya At-Tabarani, No. 8484)
8. Sufyan al-Thawri (Tabi’ut Tabi’in)
Tentang pengaruh buruk ghibah terhadap puasa.
“Ghibah itu membatalkan (pahala) orang yang berpuasa.”
(Rujukan: Lata’if al-Ma’arif karya Ibnu Rajab, hal. 155)
9. Al-Hasan al-Basri (Tabi’in)
Tentang tujuan Allah menciptakan bulan Ramadan.
“Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadan sebagai arena pacuan bagi makhluk-Nya, mereka berlomba-lomba di dalamnya dengan ketaatan untuk meraih rida-Nya.”
(Rujukan: Lata’if al-Ma’arif karya Ibnu Rajab, hal. 209)
10. Bishr bin al-Harith (Tabi’ut Tabi’in)
Tentang puasa sebagai ibadah yang jauh dari riya.
“Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih utama daripada puasa, karena di dalam puasa itu tidak ada unsur riya (pamer).”
(Rujukan: Siyar A’lam al-Nubala karya Adz-Dzahabi, 10/476)





