Sodikin Masrukin Pemerhati pendidikan, sosial-budaya dan kajian Islam yang tinggal di Kab. Purbalingga. Adalah alumnus IAIN Semarang (S1) dan IAIN Purwokerto (S2).

Inti Ajaran Al-Baqoroh 183

Memahami Inti Ajaran Al-Baqoroh 183. Dalam momen yang istimewa ini, saya mengajak kepada seluruh pembaca budiman untuk senantiasa meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah sebagai bukti ketakwaan kepada-Nya. Dan tidak lupa pula untuk bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan. Nikmat berupa kesempatan untuk berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan 1440 H yang baru saja kita lalui. Mengapa perlu bersyukur? Karena dengan kehadiran bulan Ramadhan, Allah berkenan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada hamba-Nya untuk memperoleh rahmat, maghfiroh dan terbebaskan dari api neraka melalui ibadah puasa.

Tidak hanya itu, dengan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, Allah memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk bertakwa yang berarti proses menjadi manusia paripurna.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah:183)

Ibadah puasa sunguh sangat penting bagi orang-orang yang beriman. Terhadap pentingnya puasa Ramadhan, Syaikh Ibnu Katsir menjelaskan:

لِماَ فِيْهِ مِنْ زَكَاةِ النَّفْسِ وَطَهَارَتِهَا وَتَنْقِيَّتِهَا مِنَ اْلأَخْلَاطِ الرَّدِيْئَةِ وَاْلأَخْلَاِق الرَّذِيْلَةِ. وَلِأَنَّ الصَّوْمَ فِيْهِ تَزْكِيَّةٌ لِلْبَدَنِ وَتَضْيِيْقٌ لِمَسَالِكِ الشَّيْطَانِ

Karena dalam puasa terkandung proses pembersihan, penyucian dan pencucian jiwa (hati) dari endapan-endapan kotor dan akhlak (moral) yang hina. Sungguh dalam ibadah puasa terkandung proses pembersihan diri dan mempersempit jalan-jalan syetan.

Meski ibadah puasa Ramadhan telah berakhir. Satu hal yang harus dingat bahwa proses pembersihan, penyucian dan pencucian jiwa (hati) dari endapan-endapan kotor dan akhlak (moral) yang hina tidak boleh berhenti. Proses tersebut harus terus berjalan agar kita dan orang-orang beriman lainnya tidak berhenti pula dalam berproses menjadi manusia paripurna nan utama yaitu muttaqin yang memperoleh derajat paling utama di sisi Allah SWT.

Kandung dalam Memahami Inti Ajaran Al-Baqoroh 183

Untuk bisa Memahami Inti Ajaran Al-Baqoroh 183, paling tidak ada dua kata penting dalam ayat 183 surat Al-Baqarah, yaitu الصيام dan تتقون yang merupakan inti

1. As-shiyam berarti الامساك (al-imsak) yang berarti menahan dan mengendalikan diri dari melakukan sesuatu. Memahami dan melaksanakan prinsip al-imsak tersebut sungguh sangat penting. Dengan menerapkan prinsip tersebut maka kita akan terhindar dari jatuh terjerembab dalam lubang kehinaan dan kenistaan karena ketidakmampuan menahan dan mengendalikan diri.

Menahan dan mengendalikan diri atau atau al-imsak merupakan kunci bagi kita untuk terhindar dari segala macam kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah SWT. Semakin hebat melakukannya maka semakin terhindar dari melakukan larangan-larangan Allah SWT. Semakin lemah kemampuan dalam menahan dan mengendalikan diri dari kamaksiatan maka semakin terdorong untuk jatuh terjerembab dalam kehinaan dunia dan akhirat.

Seseorang yang terjerat kasus korupsi dikarenakan ketidakmampuannya dalam menahan dan mengendalikan diri dari godaan nafsu duniawi sehingga membuatnya serakah dan lupa diri. Dan hal itu juga terkait dengan lemahnya benteng diri dalam menghadapi serbuan nafsu konsumtif. Nafsu konsumtif adalah hasrat yang mengarah pada tingkat penggunaan suatu barang tertentu secara berlebihan, dengan menghabiskan tanpa pernah berpikir untuk membuat atau menghasilkan sesuatu. Nafsu konsumtif akan membawa manusia pada pola hidup yang berlebih-lebihan dan bermewah-mewahan.

Terjadinya perzinahan di berbagai kalangan dan level masyarakat disebabkan karena ketidakmampuan dalam menahan dan mengendalikan diri dari godaan nafsu syahwat terhadap lawan jenis yang tidak halal baginya. Jika manusia sudah tidak mampu lagi menahan dan mengendalikan diri terhadap nafsu syahwatnya maka tak ubahnya seperti hewan. Sungguh ironis, manusia yang dalam pandangan Allah adalah makhluk sempurna dan istimewa kemudian di-downgrade dan dihinakan sendiri.

Jadi inti dari ajaran ibadah puasa Ramadhan adalah menahan dan mengendalikan diri. Satu tahap sudah tercapai dalam mencoba memahami inti ajaran Al-Baqoroh 183

2. Sedangkan lafadh تتقون, yang menjadi tujuan disyariatkannya puasa Ramadhan mengandung makna yang sangat dalam. Dalam perspektif ilmu sharaf, tattaqun adalah fi’il mudhori’ yang menunjukkan waktu hal dan istiqbal, yaitu kata kerja aktif dengan keterangan waktu sekarang dan akan datang, present dan future. Dengan begitu dapat dipahami bahwa ketakwaan, kesalehan, kebaikan, dan prestasi menjadi tidak berguna jika hanya terjadi di waktu yang lampau dan tidak terjadi lagi saat sekarang dan akan datang. Dan ini adalah inti ajaran Al-Baqoroh 183 yang kedua.

Seorang pelajar yang berprestasi tinggi tetapi hanya di waktu lampau menjadi tidak berarti jika prestasinya saat ini dan besok tidak bisa dipertahankan dan bahkan prestasinya jatuh.

Tidak berguna seseorang yang pernah saleh, tekun beribadah dan rajin mengaji, tetapi di kemudian hari dan akhir hayatnya menjadi hilang semua kesalehannya. Ia menjadi suul khatimah.

Baca juga: Hoax Dalam Pandangan Islam

Dengan semangat تتقون: kebaikan di waktu sekarang dan akan datang, maka siapapun harus semakin baik di setiap harinya. Tak terkecuali para pemimpin di semua level tingkatan, dari Presiden hingga Lurah/Kades. Dengan semangat tersebut, para pemimpin diharapkan membawa rakyatnya semakin meningkat kesejahteraan dan kemakmurannya, berhasil menciptakan keadilah yang sesungguhnya, mampu mempersempit gap antara yang kaya dan yang miskin, meningkatnya kualitas layanan publik, terciptanya good governance atau tata laksana pemerintahan yang baik, terciptanya good government atau pemerintahan yang baik dan benar dan juga bersih dari korupsi sehingga indek korupsinya menjadi zero karena memimpin dengan prinsip-prinsip: transparency, accountability, responsibility, independency, dan fairness.

Kita berharap, semoga Presiden pilihan rakyat hasil pemilu 2019 pun demikian adanya. Setelah nanti selesai sidang sengketa pemilu di Mahkamah Konstitusi (MK), Presisden secera resmi dilantik untuk 5 tahun kedepan berhasil meningkatkan kualitas di setiap lini kehidupan bangsa Indonesia, meningkatnya wibawa Indonesia dalam percaturan global, dan berhasil meningkatkan kualitas hidup rakyat Indonesia. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah berhasil kembali mempersatukan seluruh rakyat indonesia dalam bingkai negara kesatuan Republik Indnesia yang berdarakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Segala riak dan riuh ketika menjelang, saat dan sesudah pemilu 2019 adalah bumbu dari setiap upaya dan usaha manusia untuk mencapai tujuannya, yaitu calon yang didukung berhasil menjadi presiden ataupun wakil rakyat di Senayan. Namun ingat, sesungguhnya Allah-lah penentu siapa yang akan memperoleh al-mulku atau amanah keuasaan. Siapapun nanti yang menjadi Presiden setelah putusan MK adalah prerogatif Allah SWT. Prerogatif Allah SWT tersebut tertuang dalam QS. Ali Imran : 26

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Inti pesan dari lafadh تتقون adalah menjadi semakin baik di setiap harinya. Ketika kajian Islam seputar ayat puasa dan tujuannya sampai tahap ini maka tahap kedua dalam upaya memahami inti ajaran Al-Baqoroh 183 sudah terlalui.

Akhirnya, semoga kita dan para pemimpin di semua level tingkatan senantiasa mampu menahan dan mengendalikan diri untuk tidak bermaksiat, melakukan hal-hal yang keji dan tidak semestinya. Dan semoga pula, di setiap hari senantiasa meningkat kebaikan dan kesalehan kita hingga akhirnya menjadi husnul khatimah.

Demikian kajian keislaman tentang memahami inti ajaran Al-Baqoroh 183.

Sodikin Masrukin Pemerhati pendidikan, sosial-budaya dan kajian Islam yang tinggal di Kab. Purbalingga. Adalah alumnus IAIN Semarang (S1) dan IAIN Purwokerto (S2).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *