
Mengawali Tahun Baru dengan Paradigma Fastabiqul Khairat
Pergantian tahun kalenderiah bukan sekadar transisi angka di atas kertas, melainkan sebuah jeda ontologis yang mengundang kita untuk melakukan refleksi mendalam atas eksistensi diri. Dalam diskursus intelektual Islam, momentum ini sering kali dikaitkan dengan muhasabah (introspeksi). Namun, di ambang tahun yang baru ini, saya ingin mengajak kita melampaui sekadar evaluasi pasif menuju sebuah gerakan proaktif yang termaktub dalam doktrin Al-Qur’an: Fastabiqul Khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan.
Sebagai seorang akademisi, saya melihat bahwa urgensi Fastabiqul Khairat saat ini bukan lagi sekadar anjuran moral, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial di tengah disrupsi nilai global yang kian mengaburkan batas antara kemajuan material dan kematangan spiritual.
Dialektika Waktu dan Momentum Perubahan
Waktu, dalam perspektif fisika maupun teologi, adalah dimensi yang linear namun sekaligus sirkular dalam makna. Kita sering terjebak dalam jebakan “resolusi tahun baru” yang bersifat permukaan—seperti perbaikan finansial atau pencapaian karier semata. Padahal, jika kita membedah makna waktu melalui kacamata spiritual, tahun baru adalah Kairos—momen yang tepat untuk bertindak, bukan sekadar Chronos atau deretan waktu yang berlalu tanpa makna.
Fastabiqul Khairat, yang secara eksplisit disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 148, memberikan mandat kepada setiap individu untuk tidak sekadar “berjalan” dalam kebaikan, melainkan “berlomba”. Kata istabiqū berasal dari akar kata sabq yang berarti mendahului atau melampaui. Di sini, kita diajak untuk keluar dari zona nyaman spiritualitas yang stagnan menuju dinamisme pengabdian.
Mengapa Harus Berlomba? Memahami Etika Kompetisi dalam Islam
Mungkin muncul pertanyaan filosofis: Mengapa kebaikan harus dilombakan? Bukankah kebaikan menuntut keikhlasan yang sering kali diasosiasikan dengan ketenangan dan kesunyian?
Di sinilah letak keunikan epistemologi Islam. Kompetisi dalam Fastabiqul Khairat bukanlah kompetisi yang bersifat zero-sum game, di mana kemenangan satu pihak berarti kekalahan pihak lain. Sebaliknya, ini adalah kompetisi kolaboratif. Ketika saya berusaha menjadi lebih baik dalam integritas profesional, hal itu memicu kolega saya untuk melakukan hal yang sama. Inilah yang saya sebut sebagai positive spillover effect atau efek limpahan positif.
Tahun baru menuntut kita untuk mendefinisikan ulang kompetisi. Di tengah masyarakat yang kompetitif secara destruktif demi status sosial, Fastabiqul Khairat menawarkan alternatif kompetisi transendental. Lawan tanding kita yang sesungguhnya bukanlah orang lain, melainkan “diri kita yang kemarin”.
Pilar-Pilar Akselerasi Kebaikan di Tahun Baru
Untuk mengimplementasikan semangat ini dalam kehidupan nyata sepanjang tahun ke depan, setidaknya ada empat pilar utama yang perlu kita bangun:
1. Transformasi Intelektual dan Literasi
Kebaikan tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Sebagai profesor, saya menekankan bahwa khair (kebaikan) pertama adalah mencari kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Mengawali tahun dengan resolusi untuk membaca lebih banyak buku, memahami isu-isu kemanusiaan, dan meningkatkan kapasitas intelektual adalah bentuk nyata dari Fastabiqul Khairat. Bangsa yang besar dibangun dari individu yang berlomba-lomba meningkatkan kecerdasan literasinya.
2. Etika Digital dan Kesalehan Sosial Baru
Di era digital, medan “balapan” kita telah berpindah ke ruang siber. Tahun baru ini, mari kita berlomba dalam memproduksi konten yang mencerahkan, bukan yang memecah belah. Fastabiqul Khairat di media sosial berarti menjadi yang terdepan dalam menyebarkan verifikasi (tabayyun) dan menjadi yang terakhir dalam menyebarkan kebencian. Ini adalah bentuk jihad intelektual di abad ke-21.
3. Filantropi Berkelanjutan (Sustainable Giving)
Kebaikan tidak boleh bersifat sporadis. Salah satu interpretasi modern dari berlomba dalam kebaikan adalah membangun sistem filantropi yang berkelanjutan. Jangan hanya memberi sekali saat perayaan, tetapi bangunlah mekanisme sedekah yang berdampak jangka panjang, seperti wakaf produktif atau beasiswa pendidikan. Inilah “investasi” yang secara eskatologis (akhirat) memiliki nilai return on investment tertinggi.
4. Konsistensi (Istiqomah) sebagai Puncak Prestasi
Dalam diskursus tasawuf, istiqomah lebih tinggi nilainya daripada seribu karamah. Berlomba-lomba bukan berarti lari cepat di awal (sprint) lalu kelelahan di tengah jalan. Fastabiqul Khairat adalah maraton kehidupan. Keberhasilan tahun baru tidak diukur dari seberapa menggebu-gebu kita di bulan Januari, melainkan seberapa tangguh kita menjaga ritme kebaikan hingga Desember tiba.
Tantangan Modernitas: Menghadapi “Lelah Spiritual”
Kita hidup di era yang serba cepat, namun sering kali kehilangan arah. Fenomena burnout atau kelelahan mental sering kali muncul karena kita berlomba pada lintasan yang salah—lintasan konsumerisme dan validasi sosial.
Semangat Fastabiqul Khairat justru merupakan penawar bagi kelelahan mental tersebut. Mengapa? Karena tujuan akhirnya adalah ridha Ilahi, sebuah jangkar yang stabil di tengah badai perubahan zaman. Ketika niat kita terfokus pada pengabdian kepada Tuhan melalui pelayanan kepada sesama, maka energi yang muncul adalah energi spiritual yang tak terbatas (infinite energy).
Mengintegrasikan Fastabiqul Khairat dalam Resolusi Praktis
Bagaimana kita menterjemahkan konsep luhur ini ke dalam daftar rencana (to-do list) tahunan? Saya menyarankan pendekatan S.M.A.R.T.K (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound, dan Khair).
Specific: Tentukan satu bidang kebaikan spesifik yang ingin Anda ungguli (misalnya: manajemen waktu, pelayanan publik, atau kebersihan lingkungan).
Measurable: Pastikan ada ukuran kemajuannya.
Achievable (Dapat Dicapai): Target kebaikan haruslah berpijak pada realitas (grounded). Dalam kaidah ushul fikh, kita mengenal prinsip bahwa tidak ada beban kewajiban di luar batas kemampuan. Fastabiqul Khairat menuntut kita untuk berlari, namun tetap dalam koridor rasionalitas kapabilitas diri agar tidak terjadi keletihan spiritual (spiritual burnout) di tengah jalan.
Relevant (Relevan): Setiap aksi kebajikan harus memiliki korelasi linear dengan visi besar hidup kita sebagai hamba dan khalifah. Pastikan resolusi yang diambil memiliki signifikansi terhadap perbaikan kualitas diri dan lingkungan sosial, bukan sekadar mengikuti tren musiman yang tidak memiliki akar kemaslahatan yang kuat.
Time-bound (Tenggat Waktu): Kebaikan memerlukan bingkai temporal yang presisi untuk menghindari prokrastinasi (menunda-nunda). Menetapkan tenggat waktu berarti kita menyadari sepenuhnya akan urgensi waktu dan keterbatasan usia, sehingga setiap detik dikelola sebagai aset eskatologis yang sangat berharga.
- Khair: Pastikan bahwa setiap pencapaian pribadi Anda memberikan dampak positif bagi orang lain (maslahat).
Sebagai contoh, jika Anda seorang pengusaha, jangan hanya menargetkan kenaikan omzet. Targetkanlah berapa banyak lapangan kerja baru yang diciptakan atau seberapa besar peningkatan kesejahteraan karyawan Anda. Itulah esensi dari “mendahului dalam kebaikan”.
Refleksi Penutup: Menjadi Pionir Kebajikan
Sebagai penutup orasi tulisan ini, saya ingin mengingatkan bahwa waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Detik yang baru saja berlalu adalah sejarah yang tak terbeli. Tahun baru hanyalah sebuah pintu; kitalah yang menentukan apakah kita akan sekadar berdiri di ambangnya atau berlari melintasinya dengan membawa obor kebaikan.
Mari kita jadikan tahun ini sebagai momentum untuk berhenti menjadi penonton dalam panggung kebaikan. Jadilah aktor utama. Jadilah pionir yang ketika orang lain ragu untuk berbuat baik, Anda telah memulainya. Ketika orang lain berhenti karena lelah, Anda terus berjalan karena iman.
Fastabiqul Khairat bukan sekadar slogan organisasi, melainkan sebuah gaya hidup (lifestyle) manusia paripurna. Di tahun yang baru ini, mari kita berkompetisi bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk saling mengangkat; bukan untuk merasa paling suci, tapi untuk saling menyucikan diri melalui amal-amal yang nyata.
Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan, konsistensi, dan kejernihan berpikir untuk senantiasa berada dalam barisan terdepan dalam setiap kebajikan.
Selamat Tahun Baru. Selamat berlomba menjadi hamba-Nya yang paling bermanfaat.





